Obat Herbal Bisa Berbahaya, Kenali Cirinya !

Obat Herbal Bisa Berbahaya, Kenali Cirinya !

Obat Herbal Bisa Berbahaya, Kenali Cirinya !

Obat Herbal Bisa Berbahaya, Kenali Cirinya ! Ramuan obat herbal yang diracik dari dedaunan tanaman, kulit kayu, buah, bunga, dan akar-akaran wangi telah digunakan sejak zaman nenek moyang untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit. Namun, peredaran suplemen herbal tidak diatur seketat obat-obatan medis oleh BPOM.

 

Lantas, Apakah Obat Herbal Aman Dikonsumsi?

Menurut Prof. Maksum Radji, Guru Besar Tetap Ilmu Farmasi Universitas Indonesia, obat herbal bisa berbahaya maka agar sebuah obat herbal bisa dinyatakan aman, produk tersebut haruslah terlebih dulu dibuktikan secara ilmiah keamanannya melalui serangkaian uji klinis, antara lain uji toksisitas akut, uji toksisitas sub-akut, uji toksisitas kronik, dan uji teratogenik, dilansir dari Kompas. Obat herbal juga harus diuji dosis, cara penggunaan, efektivitas, monitoring efek samping, dan interaksinya dengan senyawa obat lain.

Sayangnya, kebanyakan obat herbal yang beredar di Indonesia tergolong dalam kategori jamu dan OHT (Obat Herbal Terstandar). Keduanya merupakan jenis obat tradisional yang belum terbukti keamanannya berdasarkan uji klinik. Khasiat OHT hanya dapat dibuktikan sejauh eksperiman pada hewan lab. Hasil percobaan praklinik inilah yang seringkali dijadikan dasar bahwa obat herbal dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Sementara itu, jamu yang biasanya menggunakan rebusan kombinasi rempah dan variasi resep turun temurun tidak memiliki dosis dan indikasi yang pasti.

Dr. Peter Canter dan Prof. Edzard Ernst dari Peninsula Medical, dilansir dari The Telegraph, mengungkapkan bahwa sampai sejauh ini bukti klinis kuat yang dapat membuktikan efektivitas jamu dan obat herbal untuk menyembuhkan penyakit masih sangat terbatas. Dan karena potensi efek samping dicurigai lebih besar dari manfaatnya, kurangnya bukti medis ini dapat diartikan bahwa penggunaan obat herbal bisa berbahaya dan tidak direkomendasikan.

 

Tak Semua Orang Boleh Minum Jamu dan Obat Herbal

Meski terbuat dari bahan alami, semua rempah juga mengandung senyawa kimia yang berpotensi menimbulkan risiko efek samping merugikan. Sebagai contoh, jamu temulawak. Temulawak diklaim ampuh sebagai obat peningkat nafsu makan dan mengatasi sembelit, namun tak banyak yang tahu bahwa temulawak memiliki sifat pengencer darah yang bisa menyebabkan perdarahan ginjal akut pada penderita penyakit hati.

Risiko efek samping juga mungkin termasuk dari produk impor yang terkontaminasi dengan bahan kimia pertanian atau organisme asing lain selama proses pembuatan di negara asalnya. Misalnya, obat-obatan herbal yang diragukan kesegaran dan kualitasnya berpotensi mengandung jamur Amanita phaloides yang memproduksi aflatoksin yang bisa merusak hati.

Selain itu, sejumlah suplemen viagra herbal impor asal Cina telah dibuktikan mengandung hingga empat kali lipat dosis campuran senyawa kimia dari obat medis resep yang biasa digunakan untuk menangani obesitas dan anti-impotensi, yang dapat menyebabkan efek samping serius seperti gangguan jantung dan tekanan darah. Padahal, yang namanya produk suplemen herbal sama sekali tidak boleh mengandung obat sintetik.

 

Perhatikan Ciri-Ciri Obat Herbal Sebelum Dibeli dan Dikonsumsi

Di balik berbagai khasiatnya, ternyata obat herbal bisa berbahaya bagi tubuh Anda. Pasalnya, sembarangan mengonsumsi obat herbal bisa berbahaya dan membuat gejala yang Anda alami jadi makin parah. Berbagai bahan dari obat herbal mungkin memberikan efek samping yang tidak Anda ketahui.

Selain itu, tanpa sepengatahuan konsumen, obat herbal juga mungkin sudah ditambahi berbagai bahan kimia berbahaya meski katanya alami. Karena itu, Anda harus bijak dan jeli dalam memilih obat herbal yang aman dan sudah teruji klinis. Berikut ini adalah ciri-ciri obat herbal bisa berbahaya bagi tubuh Anda.

 

  1. Tidak jelas siapa produsennya

Badan Kesehatan Dunia atau WHO sudah menetapkan standar yang harus diikuti oleh setiap negara mengenai kelengkapan informasi pada kemasan obat. Obat yang bagus seharusnya bukan hanya menyebut merek, tapi juga jelas mencantumkan siapa produsennya.

 

  1. Kandungan dari orbat herbal tidak jelas

Kandungan yang terdapat dalam obat seharusnya dijabarkan secara rinci pada kemasan. Jika tidak ada, Anda patut mencurigai obat tersebut. Selain jenis kandungannya, obat tradisional yang baik juga seharusnya menyebutkan berapa banyak kandungan setiap bahan yang digunakan. Dengan begitu, Anda bisa mengukur apakah takarannya terlalu banyak atau sedikit.

 

  1. Tidak ada izin edar dari Badan POM dan SNI

Seperti yang Anda ketahui, Badan Pengawas Obat dan Makanan (POM) adalah badan yang berwenang untuk mengawasi peredaran obat dan makanan di Indonesia. BPOM akan menulis nomor registrasi pada kemasan obat tersebut untuk menandakan bahwa obat tersebut sudah teruji klinis sehingga aman untuk dikonsumsi. Ini bukti bahwa obat tersebut sudah melewati berbagai macam tes yang resmi.

Namun, saat ini ada beberapa produsen obat yang menempelkan nomor izin palsu di kemasannya. Inilah yang harus diwaspadai. Anda bisa mengeceknya di website BPOM http://cekbpom.pom.go.id/. Caranya mudah. Anda tinggal mengetik hal-hal yang ada pada obat tersebut, misalnya nomor registrasi, nama produk, atau merek obat herbal yang ingin Anda ketahui.

Selain itu, obat jenis herbal yang aman seharusnya mencantumkan SNI atau Standar Nasional Indonesia. SNI akan dikeluarkan bila produknya sudah mengikuti standar produksi dan kualitas barang di Indonesia. Ini berarti produk yang ada SNI-nya punya pabrik yang bersih, aman, dan terjamin. Tanpa SNI, kualitas produk Anda dipertanyakan.

 

  1. Sekali minum, Anda merasa penyakit langsung hilang

Kebanyakan obat herbal membutuhkan proses untuk menyelesaikan masalah kesehatan Anda. Banyak obat yang khasiatnya akan baru muncul beberapa hari atau bahkan beberapa minggu setelah pertama kali mengonsumsinya. Jika Anda merasa penyakit Anda hilang sekejap setelah Anda meminum atau mengoleskan obat jenis ini, Anda patut mencurigainya. Bisa jadi, herbal tersebut mengandung Bahan Kimia Obat (BKO).

BKO adalah bahan kimia yang biasa digunakan pada obat-obatan. Seharusnya BKO tidak digunakan dalam herbal. Selain itu, penggunaan obat haruslah sesuai dengan aturan. Misalnya pada beberapa jenis kortikosteroid seperti obat deksametason dan salep betametason. Penggunaan sembarangan akan membuat fungsi kelenjar adrenal pada tubuh Anda rusak dan menyebabkan berbagai macam gejala, mulai dari rasa lemas hingga kematian.

Produsen obat herbal yang tidak bertanggung jawab akan memasukkan BKO ke dalam produknya. Ini akan membuat produknya dipandang sangat berkhasiat. Saat ini ada banyak sekali produk herbal yang menggunakan BKO. Badan POM sendiri masih terus memantau dan menemukan berbagai produk herbal yang berbahaya. Karena itu, jangan sembarangan beli produk herbal karena tergiur harga murah dan khasiat yang menjanjikan.

 

 

Obat Herbal Bisa Berbahaya, Kenali Cirinya !

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*